Kaos Merah
Pada bulan april 2009 lalu, saya berkunjung ke Bangkok, Thailand. Ketika itu, suasana kota Bangkok tampak berjalan normal. Namun, dinamika politik dalam negerinya –seperti api dalam sekam. Artinya, stabilitas politik Thailand belum sepenuhnya pulih. Perdana menteri Thailand yang baru, Abhisit Vejjajiva, kiranya belum bisa diterima masyarakat Thailand secara menyeluruh. Mungkin, Abhisit menjadi perdana menteri karena limpahan “bola kekuasaan” dari Thaksin Shinawatra –melalui kudeta militer, tanpa proses pemilu.
Karenanya, kekuasaan Abhisit –oleh sebagian pihak, dianggap tidak sah dan tak memiliki legitimasi politik yang kuat. Bagaimana pun, sisa-sisa kekuatan politik Thaksin –melalui tokoh-tokoh politik partainya, Thai Rak Thai, masih cukup punya taji. Mereka kerapkali melakukan aksi demonstrasi, menuntut segera dilakukannya pemilu ulang. Pihak Abhisit, belum memberikan tanggapan atas desakan pengikut Thaksin, hingga saat ini. Padahal, hanya melalui pemilu ulang –diharapkan, krisis politik di negeri gajah putih ini akan segera berakhir.
Kini, aksi demonstrasi para pendukung Thaksin –menamakan diri kelompok “kaos merah”, sudah berlangsung sebulan lebih. Konsentrasi aksi mereka, tepat berada di jantung pusat komersial kota Bangkok, Thailand. Dikabarkan, akibat aksi kaos merah ini, aktifitas bisnis di kota Bangkok macet. Kerugiannya, ditaksir mencapai puluhan milyard dollar dari total nilai perdagangan dan sebagainya.
Aksi kaos merah, diakui, sangatlah hebat. Mengapa? Bayangkan saja –layaknya sebuah aksi demonstrasi, bagaimana mungkin mereka mampu bertahan begitu lama, seolah mereka tak mengenal lelah? Mungkinkah, kelompok kaos merah itu orang bayaran? Atau, betulkah mereka itu tergolong sebagai kelompok militan –yang berharap hadirnya sebuah perubahan?
Di sini, kita patut mengapresiasi aksi kelompok kaos merah itu. Bukan soal tujuan politiknya, tapi soal bagaimana mereka mampu mengorganisir diri mereka dengan baik. Tidak gampang, memobilisasi puluhan ribu orang dalam sebuah aksi demonstrasi –seperti yang dilakukan Kaos Merah itu. Kita mesti berpikir, bagaimana pola komunikasi yang mereka bangun, kebutuhan konsumsi dan cara mengelola “daya tahan militansi” kelompoknya dan lain sebagainya.
Sebab, kalaupun toh dikatakan “demo bayaran”, kelompok kaos merah itu –bisa jadi, tak akan mampu bertahan sekian lama. Seolah, di dalamnya ada “magnet” yang menggerakkan mereka. Meski, Thaksin kini berada dalam pengasingan, pengaruh politiknya masih kuat. Ia seakan memiliki hubungan emosional yang kuat –terutama masyarakat pedesaan di pelosok Thailand. Dan, kaos merah –bisa jadi bermakna sebuah gerakan akar rumput.
Yang menarik, mengapa pengaruh Thaksin masih sangat kuat di kalangan mereka? Saya sendiri tak tahu pasti. Tapi, menurut penuturan teman-teman kedutaan besar kita di Bangkok –yang saya temui, masyarakat kecil di pelosok kampung Thailand, memiliki kesan tersendiri terhadap Thaksin. Dirinya, sudah diangap sebagai “Bapak” bagi –meminjam istilah PDI-P, wong cilik di Thailand. Saat dirinya menjabat perdana menteri, ia legalkan perjudian di kalangan masyarakat kecil –semacam kalau di negara kita, dulunya bernama SDSB. Nah, uang hasil judi itu lalu dikumpulkan dan dikelola dengan baik. Hasilnya, dikembalikan lagi ke masyarakat –dalam bentuk pembangunan fasilitas umum, program sekolah gratis dan sebagainya. Intinya, dana hasil judi itu, benar-benar bisa dirasakan manfaatnya bagi mereka.
Wajar saja, di mata mereka popularitas Thaksin sangat tinggi. Bahkan, konon, popularitas Thaksin hampir sama dengan sang Raja, Bhumibol Adulyajed. Entahlah. Belakangan, banyak yang menganalisa –meski sifatnya masih sangat spekulatif, popularitas Thaksin ini dikhawatirkan akan mengancam sistem monarkhi –yang telah berabad-abad lamanya, mempengaruhi sistem pemerintahan di Thailand.
Di sini, –bisa jadi, Thaksin dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap keluarga Raja. Mantra demokrasi yang dihembuskan Thaksin dan pendukung setianya, akan meruntuhkan dominasi sistem monarkhi. Thailand akan menjadi negara penganut sistem republik, atau –mungkinkah ada istilah lain?
Sekali lagi, penilaian di atas masih spekulatif sifatnya. Krisis politik di Thailand, kata banyak pengamat, tidak mudah bisa diprediksi. Seringkali berubah-ubah, dan perubahannya kadang sangat ekstrem. Bahkan, menurut teman saya dari kedutaan tadi, peran politik kelompok militer di Thailand juga sangat signifikan. Kelompok militer Thailand, dalam sejarahnya –memang, dikenal memiliki reputasi tinggi dalam hal kudeta pemerintahan. Konon, banyak jenderal-jenderal militer dari negara kita, yang diam-diam “belajar” dan menjalin hubungan pribadi dengan oknum militer di Bangkok, seputar masalah-masalah kudeta.
Hingga saat ini, pimpinan aksi kaos merah masih bertahan, meski surat perintah penangkapan sudah berkali-kali dikeluarkan. Mereka dikabarkan akan menyerahkan diri, tanggal 15 mei 2010 nanti. Mereka akan menyerah, untuk menghindari jatuhnya korban tindak kekerasan aparat keamanan.
Fenomena kaos merah di Thailand, kini, mereka sedang merajut mimpi bagi perubahan dan kejayaan negaranya. Dan, itu telah mereka buktikan –dengan segala resiko yang bakal terjadi.
Kaos merah di Thailand, memang beda dengan kaos merah di negeri kita.
jakarta, 20/04/2010
Belum ada komentar.
Tinggalkan Balasan
-
Terkini
- Media Indonesia – Pidato Lengkap Obama Terkait Tewasnya Osama
- Suku Indian
- Setgab dan SBY
- Kaos Merah
- Polisi Makan Polisi
- Data Intelijen
- pasca aksi 09/12
- Check out .: Primair Online – Portal Berita Hukum & Politik | Versi lengkap berita aliran dana Century dan konfirmasi para pihak :.
- SBY Bakal Jatuh?
- Cuci Tangan SBY
- Soal Pidato itu
- Ada Apa Lagi?
-
Tautan
-
Arsip
- Juni 2011 (2)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Desember 2009 (3)
- November 2009 (11)
- Oktober 2009 (15)
- September 2009 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS