Data Intelijen
Aksi demonstrasi 09/12 lalu, ternyata berjalan tertib dan damai. Meski, sempat terjadi kericuan kecil –misalnya di Makassar, itupun sifatnya masih wajar. Dan, apa yang menjadi substansi aksi itu, peringatan hari anti korupsi dunia, yang jelas telah tercapai. Karenanya, banyak pihak mengapresiasi aksi demonstrasi itu sebagai sikap prilaku yang dewasa.
Ini perlu kita catat, sebagai bagian dari peningkatan kedewasaan politik masyarakat kita. Mereka sadar –terhadap, bagaimana menyampaikan aspirasi itu, tanpa harus bersikap anarkhi.
Ini berbeda dengan pernyataan SBY sebelumnya. Bahwa, aksi 09/12 itu bakal ditumpangi kepentingan politik yang bermaksud menggoyang kekuasaanya. Ia bilang, sudah mengantongi nama-nama itu. Sumber informasinya, katanya, berdasarkan laporan data intelijen. Di akhir pernyataannya, dia biasanya bilang, “ini bukan rumor, bukan guyonan, bukan gossip, tapi data intelijen”.
Akhirnya, kita pun bertanya, sudah sepatutnyakah data intelijen itu diumbar pada publik? Apa yang mendasari dirinya mengungkapkan data intelijen itu? Lalu, apakah data intelijen itu memang benar-benar valid atau justru fiktif? Sebab, bukan kali ini saja dia mengumbar data intelijen itu. Kita masih ingat, ketika peristiwa bom JW Marriot dan Ritz Carlton –beberapa bulan lalu, dia pun menyampaikan pernyataan yang sama.
Sekali lagi, apa motif SBY menyatakan hal di atas?
Bahwa, kekhawatiran sebagian pihak –terutama SBY, aksi 09/12 diperkirakan akan chaos dan anarkhis, ternyata tak terbukti. Selanjutnya, apakah –berarti, SBY keliru memahami data intelijen tersebut? Agaknya, terlalu bodoh menilai SBY bersikap seperti itu. Jauh hari, tentu dia sudah mencium adanya gerakan politik yang akan mengancam kekuasaannya.
Sebagai orang yang tahu dunia intelijen, SBY tak mau kecolongan. Makanya, lagi-lagi, dia buka saja data intelijen itu di depan publik. Dengan asumsi, lawan politiknya akan berpikir-ulang. Mereka akan mengira, gerakan politiknya sudah bocor. Dan, jika diteruskan, agaknya terlalu beresiko tinggi. Terlalu banyak penumpang gelap yang akan masuk –bisa jadi, termasuk SBY sendiri. Hingga, apa yang akan menjadi target politiknya, sulit bisa dicapai. Begitupun, situasi politik di lapangan takkan bisa mereka control.
Penilaian di atas, diasumsikan jika data intelijen itu memang benar-benar ada. Artinya, SBY bersikap “mendahului” gerakan politik lawan. Sekaligus, strategi ini ia gunakan sebagai bagian dari psy-war terhadap siapa saja yang bermaksud melengserkan kekuasaannya. Di samping itu, dalam waktu bersamaan, ia ingin meraih simpati masyarakat –seolah-olah dirinya terancam.
Tapi, mungkinkah data intelijen itu fiktif, semacam gertakan politik semata? Bisa jadi, benar. Nyatanya, aksi demonstrasi peringatan hari anti korupsi itu berjalan normal saja. SBY hanya ciptakan monster imajiner, yang membuat masyarakat yang akan ikut berdemo nyalinya ciut. Masyarakat jadi resah dan takut, karena hal itu yang diharapkan –sebagai satu-satunya upaya membelah konsentrasi massa.
Seandainya saja, aksi demonstrasi 09/12 lalu, berlangsung rusuh –terlepas apa penyebabnya, bukankah SBY sudah memberikan data intelijen sebelumnya? Artinya, memang benar. Bahwa, data intelijen SBY bukan sekedar mengada-ada. Bukan gossip lagi, terlebih asal bicara saja.
Orang lalu menyimpulkan, dalam konteks demo 09/12 lalu, ternyata SBY tampak sedang menggosip saja. Ia benar-benar “memainkan” strategi intelijen, sesuai keinginannya. Dan, itu berhasil. Seandainya, lawan politik –sebagaimana yang dia maksud itu ada, ternyata benar-benar tiarap. Jikapun, lawan politik itu tak ada, apa salahnya dia ciptakan –seolah-olah memang nyata, jika memang diperlukan. Namanya juga, permainan intelijen.
Tapi, jangan-jangan, data intelijen itu malah dia simpan rapi. Siapa tahu, di kemudian hari, data itu akan dipentaskan lagi –dengan lakon dan tempat yang berbeda.
Nah, lho mau bilang apa?
Jakarta, 11/12/2009
pasca aksi 09/12
Pasca aksi 09/12 lalu, memperingati hari anti korupsi dunia, muncul beberapa analisa menarik. Di satu pihak, kekhawatiran dan stigmatisasi SBY terhadap aksi itu, ternyata tak terbukti. Sebelumnya, SBY sangat bersemangat menuding seseorang dan upaya-upaya menunggangi aksi itu untuk menggulingkan kekuasaannya.
Kenyataannya, di pihak lain, aksi itu berjalan damai dan tertib. Mereka menuntut SBY minta maaf, atas pernyataan sebelumnya. SBY dinilai telah menerima informasi inteligen yang salah.
Namun, Menkopolhukam –Joko Suyanto, buru-buru membantah jika laporan inteligen itu salah.
Saya kira, yang patut kita cermati –dalam hal ini, sikap “mendahului” pernyataan seolah-olah ada ancaman terhadap dirinya. Dan, strategi ini seringkali ia gunakan dalam beberapa kasus –misalnya dalam peristiwa Marriot II yang lalu.
SBY sedang memainkan psikologi lawan maupun masyarakat. Ia buka ke permukaan –yang seolah, ada gerakan lawan yang sedang membuntuti aksi damai tersebut. Sekaligus, ia sedang menggali simpati massa atas apa yang bakal terjadi pada dirinya.
Bagi lawan politik, pernyataan SBY ini memang tidak menguntungkan. Strategi mereka sudah tercium oleh SBY, karenanya tak ada pilihan lain kecuali mengurungkannya. Jika pun rencana ini diteruskan, hasilnya tak akan bisa maksimal. Akan bertambah blunder dan kontra-produktif jadinya.
Asumsi ini, dikemukakan jika memang laporan data intelijen itu benar adanya. Namun, sebaliknya, jika pengertian lawan –dalam hal ini, bermakna fiktif, bukankah hal itu juga bisa ia ciptakan?
Sebagai catatan, sebagai sebuah gerakan kontra-intelijen, SBY dalam aksi tersebut dapat dikatakan menang. Sayangnya, secara politik, ia masing belum beruntung. Mestinya, pernyataan itu cukup disampaikan para pembantunya saja, tak perlu dirinya.
Sampai di sini, ia telah mampu mematahkan strategi lawan, namun kepercayaan publik terhadap dirinya belum sepenuhnya pulih. Ia masih dianggap sebagai pembohong, karena asumsinya tak terbukti.
Jakarta, 10/12/2009
-
Terkini
- Media Indonesia – Pidato Lengkap Obama Terkait Tewasnya Osama
- Suku Indian
- Setgab dan SBY
- Kaos Merah
- Polisi Makan Polisi
- Data Intelijen
- pasca aksi 09/12
- Check out .: Primair Online – Portal Berita Hukum & Politik | Versi lengkap berita aliran dana Century dan konfirmasi para pihak :.
- SBY Bakal Jatuh?
- Cuci Tangan SBY
- Soal Pidato itu
- Ada Apa Lagi?
-
Tautan
-
Arsip
- Juni 2011 (2)
- Mei 2010 (1)
- April 2010 (2)
- Desember 2009 (3)
- November 2009 (11)
- Oktober 2009 (15)
- September 2009 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS